Perbedaan Peran antara Bisnis Owner, Founder, dan CEO

Photo of author
Written By ngalup

Artikel ini telah diterbitkan oleh
Ngalup Collaborative Network.

Highlights
  • Peran bisnis owner tidak hanya menjalankan operasional, tetapi memastikan arah dan visi bisnis tetap terjaga.
  • Ketika owner terlalu terlibat dalam hal teknis, proses pengambilan keputusan strategis bisa melambat dan menghambat pertumbuhan usaha.
  • Dengan memahami kapan owner harus mendelegasikan tugas, bisnis dapat berkembang lebih terstruktur, fokus, dan berkelanjutan.

Bisnis owner sering kali merasa bisnisnya jalan, tapi sulit berkembang. Bukan karena kurang modal atau tim, melainkan sering menjalani peran tumpang tindih antara CEO dan founder.

Kalau baru memulai usaha, bisnis owner bisa memegang semua peran. Namun, ketika bisnis mulai bertumbuh, mindset serta fokus peran harus ikut berubah agar operasional tetap berjalan tanpa kehilangan arah jangka panjang.

Nah, lewat artikel ini kamu akan diajak memahami apa perbedaan bisnis owner, founder, dan CEO, termasuk kapan owner perlu turun tangan atau melepas tugas ke orang lain. Simak sampai selesai!

Apa Bedanya Bisnis Owner, Founder, dan CEO?

Sebelum membahas lebih jauh, kamu harus paham peran owner dalam bisnis dan bedanya dengan CEO maupun founder. Biar lebih mudah dipahami, berikut tabel perbandingan antara tiga peran tersebut: 

PeranFokus UtamaCara BerpikirContoh AktivitasRisiko Jika Gagal
Bisnis OwnerMengendalikan arah dan keberlanjutan bisnisStrategis, jangka panjang, pengambil keputusan besarMenentukan visi–misi, memilih CEO, ekspansi, investasi, delegasiBisnis jalan di tempat karena owner terlalu teknis
FounderMembangun dan memulai bisnisVisioner awal, intuitif, berbasis ideMenemukan ide, membangun produk awal, validasi pasar, ikut jualanBisnis sulit berkembang karena terlalu bergantung pada ide dan kontrol pribadi
CEOMenjalankan strategi agar target tercapaiSistematis, operasional, berbasis dataMengelola tim, menyusun KPI, monitoring performa, eksekusi strategiOperasional rapi, tapi bisnis kehilangan arah jangka panjang

Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa founder merupakan pencetus ide awal usaha yang statusnya melekat secara historis dan tidak tergantikan sebagai pendiri. Misalnya, Steve Jobs akan selalu tercatat sebagai pendiri Apple, dan fakta tersebut tidak akan berubah.

Berbeda dengan founder, owner bisa diisi oleh beberapa dan statusnya dapat berpindah tangan berdasarkan persentase kepemilikan saham. Semakin besar jumlah saham yang dimiliki, maka semakin besar pula wewenang owner dalam menentukan keputusan perusahaan, termasuk menunjuk CEO.

Alasan Bisnis Owner Sulit Mengembangkan Usaha

Pada titik tertentu, banyak owner merasa usahanya seolah berhenti berkembang, padahal omset relatif stabil. Berikut beberapa alasannya:

1. Terjebak di Banyak Peran Sekaligus

Wajar kalau kamu merangkap banyak peran saat memulai bisnis. Namun, saat usaha mulai berkembang, kebiasaan ini malah bisa jadi penghambat.

Ketika seorang owner mengurus terlalu banyak hal teknis, waktu dan energi justru habis di operasional harian, sehingga memperlambat pengambilan keputusan penting. Alhasil, meskipun bisnis berjalan, upaya untuk naik level akan terasa jauh lebih sulit.

2. Sulit Membedakan Peran Owner, CEO, dan Founder

Tugas owner dalam bisnis berbeda dengan CEO dan founder. Maka dari itu, ketika kamu menjalankan semua peran tanpa batas yang jelas, arah bisnis jadi ikut kabur.

Dampak yang ditimbulkan dari kondisi ini pun beragam. Salah satunya adalah tidak adanya pihak yang benar-benar fokus menjaga visi jangka panjang, sehingga berpotensi mengganggu keberlanjutan usaha.

3. Takut Melepas Kendali dan Mendelegasikan

Bagi pebisnis pemula, terkadang ada rasa khawatir atas campur tangan orang lain. Akibatnya, owner jadi enggan mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain.

Padahal, delegasi bukan menghilangkan kontrol, tapi memindahkan eksekusi kepada orang yang lebih kompeten. Tanpa delegasi, kapasitas bisnis mengikuti kapasitas owner, sehingga usaha sulit berkembang meski peluang terbuka lebar.

4. Fokus Jangka Pendek daripada Panjang

Karena disibukkan oleh operasional harian, tak jarang owner hanya fokus pada target jangka pendek. Misalnya, hanya berkutat pada penjualan atau efisiensi biaya.

Cara ini salah karena keputusan diambil biasanya bersifat reaktif, strategi mudah berubah, hingga tim bekerja tanpa tujuan yang terukur. Hasilnya, bisnis pun berjalan tanpa peta yang jelas.

Cara Menjadi Bisnis Owner yang Baik

Menjadi owner yang baik bukan berarti menguasai semua hal, melainkan mampu menempatkan diri secara strategis agar bisnis makin tumbuh. Berikut beberapa tipsnya:

1. Memahami Peran Utama sebagai Pengarah Bisnis

Bisnis owner yang baik harus tahu bahwa tugas utamanya adalah menentukan arah, bukan mengerjakan semua hal teknis. Fokus utama yang harus dijaga adalah:

  • Menyusun visi dan tujuan jangka panjang,
  • Menentukan prioritas strategis,
  • Mengambil keputusan besar yang berkelanjutan.

2. Berani Melepas Peran Operasional Secara Bertahap

Perlu diingat, melepas bukan berarti kehilangan kontrol. Sebaliknya, dengan menerapkan langkah-langkah ini, bisnis tidak berhenti di kapasitas owner:

  • Identifikasi tugas yang bisa didelegasikan,
  • Serahkan eksekusi kepada orang yang kompeten,
  • Tetap pegang kendali melalui sistem dan target.

3. Bangun Sistem agar Tidak Bergantung pada Satu Orang

Bisnis yang sehat adalah bisnis yang tetap berjalan meskipun owner tidak terlibat langsung setiap saat. Maka dari itu, perkuatlah sistem dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Membuat standar kerja yang jelas,
  • Menyusun alur pengambilan keputusan,
  • Mengandalkan data, bukan asumsi pribadi.

4. Menjaga Fokus pada Visi Jangka Panjang

Visi jadi kompas utama dalam bisnis, sehingga owner harus memastikan bahwa visi perusahaan bisa bertahan dalam jangka panjang. Dengan visi yang jelas, maka:

  • Keputusan lebih konsisten,
  • Tim memahami arah kerja,
  • Pertumbuhan bisnis lebih berkelanjutan.

Kapan Bisnis Owner Perlu Melepas dan Mendelegasikan Tugas?

Pemilik usaha perlu mulai melepas dan mendelegasikan tugas ketika keterlibatan langsung justru memperlambat pertumbuhan bisnis. Tanda-tandanya bisa dilihat dari keputusan yang makin lambat, owner kelelahan, atau bisnis terlalu bergantung pada satu orang.

Di fase ini, terus-menerus turun tangan bukan lagi solusi, melainkan hambatan bagi perkembangan usaha. Jadi, dengan menyerahkan eksekusi kepada orang yang tepat, owner pun dapat kembali menjalankan perannya sebagai pengarah bisnis.

FAQ

1. Bagaimana cara mulai mendelegasikan tugas tanpa takut bisnis berantakan?

Mulai dari tugas rutin dan berulang, buat SOP sederhana, lalu percayakan ke tim secara bertahap. Monitoring tetap penting, tapi tidak perlu terlibat di detail teknis.

2. Apakah delegasi tugas cocok untuk bisnis kecil atau UMKM?

Sangat cocok. Justru sejak skala kecil, bisnis perlu dibangun dengan sistem agar mudah berkembang saat permintaan meningkat.

3. Tanda apa yang menunjukkan owner terlalu sibuk di urusan teknis?

Owner jarang punya waktu evaluasi, selalu merasa lelah, keputusan tertunda, dan bisnis sulit berkembang meski sudah berjalan lama. Jika sudah ada tanda-tanda ini, owner perlu melakukan evaluasi lanjutan.

Saatnya Owner Mulai Fokus Bertumbuh

Menjadi bisnis owner bukan soal mengerjakan semuanya sendiri, tetapi memastikan setiap peran berjalan selaras dengan visi jangka panjang. Dengan berani mendelegasikan tugas, owner jadi punya ruang lebih besar untuk berpikir strategis.

Ngalup hadir untuk kamu yang ingin belajar seputar strategi bisnis, pengembangan perusahaan, hingga insight menarik lainnya. Melalui artikel, program, dan event yang disediakan, Ngalup bisa menjadi sumber inspirasi untuk menyusun visi misi bisnis yang lebih jelas dan relevan.

Jadi, tunggu apa lagi? Kunjungi Ngalup.co dan dapatkan informasi lengkap dan update terbaru supaya kamu bisa terus bertumbuh!