Karyawan Gen Z Cepat Resign? Ini Realita di Dunia Kerja

Photo of author
Written By ngalup

Artikel ini telah diterbitkan oleh
Ngalup Collaborative Network.

Highlights
  • Karyawan Gen Z cepat resign semakin sering terjadi di dunia kerja modern.
  • Perbedaan nilai, ekspektasi kerja, dan gaya komunikasi antara Gen Z dan generasi sebelumnya kerap memicu konflik serta ketidakpuasan.
  • Dengan memahami karakter Gen Z dan menerapkan strategi pengelolaan SDM yang tepat, perusahaan dapat menekan turnover dan membangun tim yang lebih produktif.

Karyawan Gen Z cepat resign jadi salah satu peristiwa yang mulai umum terjadi di dunia kerja. Tak heran banyak perusahaan mengeluhkan hal yang sama, karena mereka baru beberapa bulan bergabung, tapi sudah memilih keluar.

Pertanyaannya, apakah karyawan Gen Z memang mudah menyerah? Atau justru perusahaan belum benar-benar memahami karakteristik mereka di lingkungan kerja saat ini?

Nah, lewat artikel ini, kita akan membahas realita karyawan Gen Z di dunia kerja, mulai dari penyebab cepat resign hingga apa yang bisa pebisnis lakukan agar tim tetap solid. Simak sampai selesai!

Alasan Karyawan Gen Z Cepat Resign

Fenomena karyawan Gen Z yang cepat resign sering kali dipandang sebagai isu loyalitas. Padahal, masalahnya tidak sesederhana itu, lho! Ini alasannya:

1. Ekspektasi Kerja Tidak Sesuai Kenyataan

Banyak Gen Z masuk dengan harapan mendapat peran jelas dan ruang belajar. Saat realita berbeda dari deskripsi kerja awal, rasa kecewa mudah muncul.

Jika kondisi ini dibiarkan, motivasi kerja pun ikut menurun. Alhasil, resign dianggap sebagai jalan keluar paling logis yang bisa mereka pilih.

2. Kurangnya Arah dan Pengembangan Karier

Karyawan Gen Z ingin tahu bagaimana masa depan mereka di perusahaan. Tanpa gambaran jenjang karier, mereka merasa hanya “membuang-buang waktu”.

Dalam benak mereka, ketidakjelasan arah sering memicu keputusan besar. Misalnya saja dengan mencari peluang di perusahaan lain dengan operasional lebih jelas dan jenjang karier lebih menjanjikan.

3. Gaya Kepemimpinan yang Kurang Adaptif

Pola kepemimpinan satu arah membuat Gen Z merasa tidak dilibatkan. Minim ruang diskusi memperlemah keterikatan emosional dengan perusahaan.

Akibatnya, mereka sulit bertahan lama di lingkungan kerja yang terasa kaku dan tertutup. Kalau sudah begini, resign jelas jadi opsi pertama yang mereka pilih agar bisa berkembang.

4. Lingkungan Kerja Tidak Sejalan dengan Nilai Pribadi

Gen Z sangat memerhatikan work life balance, di mana keseimbangan hidup dan kesehatan mental berjalan beriringan. Tekanan kerja yang berlebihan akan menurunkan keterikatan mereka terhadap pekerjaan.

Jika nilai perusahaan tidak sejalan dengan prinsip yang mereka pegang, keputusan resign bisa diambil tanpa ragu. Terutama ketika lingkungan kerja tidak lagi mendukung kesejahteraan jangka panjang.

Dampak Tingginya Turnover Karyawan Gen Z bagi Perusahaan

Tingginya tingkat keluar-masuk karyawan Gen Z bisa jadi sinyal adanya masalah dalam pengelolaan SDM. Jika dibiarkan, kejadian ini bisa kasih dampak buruk ke perusahaan:

1. Biaya Rekrutmen dan Pelatihan Terus Meningkat

Setiap kali pegawai resign, perusahaan harus mengulang proses rekrutmen dan pelatihan dari awal. Hal ini menyedot waktu, tenaga, dan biaya yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pengembangan bisnis.

Dalam jangka panjang, pengeluaran berulang membuat efisiensi menurun. Selain itu, produktivitas perusahaan juga tidak bisa berjalan maksimal.

2. Kinerja Tim Menjadi Tidak Stabil

Pergantian karyawan yang terlalu cepat membuat alur kerja sering terputus. Beban kerja pun berpindah ke anggota tim lain yang masih bertahan.

Akibatnya, kinerja karyawan Gen Z maupun tim secara keseluruhan menjadi tidak konsisten. Hasilnya, target sulit tercapai secara berkelanjutan dan efisiensi tim jadi makin menurun.

3. Employer Branding Ikut Terdampak

Tingginya turnover karyawan dapat memengaruhi citra perusahaan di mata pencari kerja. Reputasi sebagai tempat kerja yang tidak ramah karyawan pun bisa terbentuk.

Jika dibiarkan, perusahaan akan semakin sulit menarik talenta berkualitas di masa depan. Kondisi ini juga bisa memperpanjang proses rekrutmen dan mempersempit pilihan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Kesalahan Perusahaan dalam Mengelola Karyawan Gen Z

Fenomena-fenomena di atas tidak selalu bisa dilimpahkan pada Gen Z. Berikut kesalahan utama yang sering perusahaan lakukan dalam pengelolaan SDM:

1. Menyamakan Pola Kerja Semua Generasi

Perusahaan sering menerapkan pendekatan yang sama untuk semua generasi Gen Z maupun generasi sebelumnya. Padahal, cara kerja, gaya komunikasi, dan kebutuhan mereka berbeda.

Ketika pendekatan ini dipaksakan, pegawai Gen Z merasa tidak dipahami dan sulit berkembang secara optimal. Dampaknya, rasa nyaman bekerja pun perlahan menurun.

2. Kurang Transparan Sejak Proses Rekrutmen

Informasi terkait peran, beban kerja, dan ekspektasi sering tidak disampaikan secara terbuka sejak awal. Hal ini membuat karyawan Gen Z merasa tertipu ketika realita kerja tidak sesuai harapan.

Akibatnya, rasa percaya terhadap perusahaan cepat menurun dan keputusan resign lebih mudah diambil. Kepercayaan yang hilang ini sulit dipulihkan dalam waktu singkat.

3. Minim Ruang Diskusi dan Feedback

Sebagian perusahaan masih menerapkan komunikasi satu arah tanpa ruang dialog. Pegawai Gen Z pun kesulitan menyampaikan ide, masukan, atau kendala kerja.

Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat mereka merasa tidak dihargai dan memilih mencari lingkungan kerja yang lebih terbuka. Keterlibatan karyawan pun ikut menurun.

Cara Menghadapi Karyawan Gen Z agar Tidak Mudah Resign

Menghadapi Gen Z bukan berarti perusahaan harus selalu mengalah. Agar karyawan lebih termotivasi dan terlibat secara aktif, perusahaan bisa menerapkan beberapa langkah berikut:

  • Libatkan karyawan dalam diskusi, berikan ruang untuk menyampaikan ide, serta dengarkan masukan secara serius,
  • Jelaskan tujuan dan dampak pekerjaan, karena motivasi karyawan Gen Z cenderung muncul ketika mereka memahami kontribusi pekerjaannya,
  • Berikan feedback dan apresiasi atas progres kecil supaya kepercayaan diri meningkat.
  • Sediakan pelatihan, mentoring, atau rotasi tugas yang membantu mereka merasa berkembang.

FAQ

1. Apa perbedaan cara kerja milenial dan Gen Z?

Perbedaan utama terlihat dari cara memandang pekerjaan. Milenial cenderung fokus pada stabilitas dan jenjang karier jangka panjang, sementara Gen Z menekankan fleksibilitas, keseimbangan hidup, dan makna pekerjaan sejak awal.

2. Kenapa Gen Z lebih vokal menyampaikan pendapat?

Gen Z tumbuh di era digital yang terbuka dan cepat. Alhasil, mereka terbiasa menyampaikan opini secara langsung dan mengharapkan komunikasi dua arah di tempat kerja.

3. Apakah perbedaan generasi bisa memicu konflik di tempat kerja?

Bisa jika tidak dikelola dengan baik. Maka dari itu, perbedaan gaya kerja antara milenial dan Gen Z perlu dijembatani melalui komunikasi terbuka dan kebijakan SDM yang inklusif.

Saatnya Mengelola Gen Z dengan Pendekatan yang Tepat

Karyawan Gen Z yang cepat resign bukan sekadar tantangan SDM, tetapi sinyal bahwa cara perusahaan mengelola manusia perlu dievaluasi. Dengan memahami pola pikir, motivasi, dan ekspektasi mereka, bisnis bisa membangun tim yang lebih solid dan berkelanjutan.

Butuh referensi menarik seputar strategi bisnis, pengembangan perusahaan, hingga insight praktis tentang pengelolaan SDM? Tenang, Ngalup hadir sebagai ruang belajar dan diskusi bagi pebisnis yang ingin terus bertumbuh.

Melalui berbagai program, artikel, hingga event relevan dengan tantangan dunia kerja, Ngalup siap membantumu menemukan inspirasi untuk menyusun visi misi bisnis yang lebih adaptif dan berdampak. Yuk, kunjungi Ngalup.co dan bawa bisnismu melangkah lebih strategis!