Apa itu Brand Community? Manfaat dan Cara Membentuknya

Photo of author
Written By ngalup

Artikel ini telah diterbitkan oleh
Ngalup Collaborative Network.

Memang selalu memberikan yang terbaik dari segi produk maupun pelayanan merupakan kewajiban utama dalam berbisnis. Tapi perlu kalian tahu dalam membuat bisnis tersebut semakin maju, tidak cukup sampai di situ. Kamu juga memerlukan yang namanya brand community sebagai salah satu strategi marketing.

Istilah apa lagi itu brand community? Mari mengenalnya lebih dalam pada pembahasan artikel berikut : 

Pengertian Brand Community Secara Umum

Sprout Social mendefinisikan brand community adalah sebuah tempat/wadah bagi sekumpulan konsumen yang terhubung secara emosional dengan brand suatu perusahaan. 

Di tempat inilah konsumen dapat berinteraksi secara lebih mendalam tentang brand tersebut. Baik itu dengan perusahaannya langsung maupun dengan konsumen lain yang juga ingin mengikuti perkembangan brand.  

Oleh karena itulah biasanya brand community itu terdiri atas konsumen-konsumen yang tarafnya sudah cukup loyal. 

Dengan demikian mereka cenderung akan selalu menikmati setiap konten yang perusahaan buat karena sudah sangat percaya. Selain itu juga tidak segan membeli produk terbaru dan merekomendasikannya kepada orang lain. 

Pengertian dari Brand Community Secara Spesifik

Makna dari komunitas suatu brand nyatanya tidak sebatas hanya sekumpulan orang yang memiliki minat yang sama pada produk perusahaan. Harvard Business Review memberikan insight yang lebih mendalam yaitu : 

Komunitas Brand Bukan Sekedar Strategi Untuk Marketing Tapi Juga Bisnis Secara Keseluruhan

Iya betul adanya  komunitas sering dipergunakan oleh perusahaan sebagai cara untuk mempromosikan berbagai produknya. Namun yang menjadi kesalahan di sini, perusahaan hanya menganggapnya sebatas itu. Kelakuan yang justru malah membuat komunitas kecewa karena merasa dipandang sebagai “sapi perah”.

Padahal jika perusahaan  mengoptimalkan brand community sebagai kerangka utama dalam bisnis keseluruhan, akan mampu memberikan manfaat yang lebih besar. Lebih jelasnya dapat kamu lihat dari contoh brand community yang dilakukan oleh produsen dari Harley Davidson

Belajar dari pengalaman selamat dari kebangkrutan pada tahun 1985, manajemen mulai berbenah dengan menata ulang strategi bisnisnya berpusat pada komunitas. Segala aspek yang ada mulai dari budaya kerja, prosedur operasional, sampai kepada pengambilan keputusan dibuat sejalan untuk kepentingan komunitas.

Strategi yang berbuah manis karena 25 tahun kemudian mereka berhasil masuk menjadi top 50 perusahaan yang bernilai 7,8 miliar USD. 

Komunitas Brand Ada Bukan Untuk Melayani Perusahaan Tapi Setiap Konsumen yang Tergabung di Dalamnya. 

Tujuan utama perusahaan pasti mencari keuntungan tapi jangan sampai terlalu terobsesi dengan itu. Obsesi yang membuat pihak manajemen acapkali lupa bahwa konsumen sebenarnya adalah sesama manusia yang juga punya kebutuhan. 

Tidak mengherankan jadinya kalau konsumen akhirnya mengalami kekecewaan karena menyadari perusahaan hanya menganggapnya sebagai penghasil uang. Sesuatu yang tidak boleh kamu biarkan karena bisa saja mereka akan beralih ke brand lain.

Mulai dari sekarang kamu harus mulai ubah perspektifnya. Supaya mampu membentuk brand community yang loyal, tidak cukup hanya lewat promo dan diskon. Paling utamanya adalah bagaimana kamu mengerti apa yang menjadi kebutuhan mereka.

Manfaat Brand Community untuk Marketing

Setelah membaca pengertian yang lebih spesifik di atas, bisa kamu bayangkan betapa sulitnya mewujudkan komunitas yang ideal seperti itu.

MinLup sebut sulit karena keinginan perusahaan dan komunitas tidak jarang bertolak belakang.  Tapi percayalah bahwa itu  layak diperjuangkan karena manfaat brand community marketing yang begitu besar seperti :  

Memperluas Brand Awareness

Lewat konsumen-konsumen setia yang dengan senang hati merekomendasikan brand-mu secara mouth to mouth kepada kenalannya, bisnismu berpeluang besar semakin dikenal. 

Alasannya mengacu pada  survei yang Nielsen lakukan  tahun 2021 pada 40.000 orang dari 56 negara. Survei tersebut menyatakan bahwa 88% konsumen lebih percaya pada rekomendasi dari orang yang sudah mereka kenal.

 Itulah mengapa penting sekali kamu menjaga loyalitas dari para konsumen lama. Bisa jadi mereka dapat membawa konsumen-konsumen baru yang belum pernah mengetahui soal brand-mu sebelumnya. Dengan kehadiran konsumen baru itulah brand community yang kamu bangun akan semakin besar. 

Meningkatkan Kualitas Interaksi Dengan Konsumen

Dalam hubungan bisnis dengan konsumen, akan jauh lebih bagus kalau kamu tahu dengan detail masing-masing karakter uniknya. Kamu akan jauh lebih mudah mengambil hati supaya mereka bersedia melakukan apa yang kamu minta kalau berhasil melakukan itu.  

Dari sisi sebaliknya, menurut  survei dari McKinsey 71% konsumen pun memiliki ekspektasi supaya vendor memperlakukan mereka secara personal dalam transaksi. Mereka merasa diistimewakan dengan perlakuan seperti itu.

Di sinilah kehadiran komunitas brand menjadi penting sebagai akses buat kamu menganalisis berbagai karakter yang unik dari konsumen tersebut. 

Meningkatkan Kualitas Pengalaman yang Konsumen Rasakan 

Di samping produk dan pelayanan, Salesforce menyebutkan bahwa 80% konsumen pun memperhitungkan pengalaman yang mereka rasakan dalam menilai kualitas brand. Pengalaman di sini konteksnya buka hanya saat mereka berbelanja di tempatmu tapi juga mencakup bagaimana kamu berinteraksi dengan mereka dalam dunia digital. 

Semakin menyenangkan pengalaman yang kamu berikan, semakin baik pula penilaian dari konsumen. Dari situ  kesempatan bisnismu mencapai kesuksesan juga semakin tinggi.

Cara Membangun Brand Community

Ternyata signifikan sekali bukan keuntungan yang bisa kamu peroleh lewat komunitas brand? Maka dari itu mulai bangun komunitasmu sendiri dengan cara-cara berikut : 

Tentukan Brand-mu Ingin Dikenal Seperti Apa

Hal pertama dalam membentuk brand community adalah tentukan dulu citra seperti apa kamu ingin dikenal oleh konsumen.  Nilai-nilai plus dan unik seperti apa yang dapat kamu tawarkan untuk menarik konsumen yang kamu targetkan. 

Tentunya menentukan poin-poin itu tidak bisa sembarangan, tetap perlu menyesuaikan dengan visi dan misi dari perusahaan. 

Tentukan Langkah Brand-mu Secara Spesifik

Setelah kamu bisa merumuskan seperti apa karakter brand maka sekarang giliranmu menetapkan langkah yang harus diambil untuk dapat mewujudkan karakter itu. Supaya langkah tersebut akurasinya terjaga maka sebelumnya kamu jawab dulu beberapa pertanyaan panduan berikut :  

  • Apa tujuan utama membentuk komunitas?
  • Apakah kamu ingin membantu konsumen memperoleh jawaban terkait produk atau profesi mereka?
  • Apa yang akan kamu lakukan untuk menjaga interaksi dengan anggota komunitas?
  • Parameter apa yang kamu pakai dalam mengukur keberhasilan pembentukan komunitas?
  • Apa hasil akhir yang paling kamu harapkan dengan adanya komunitas? Brand yang lebih dikenal ataukah konversi ke penjualan yang lebih banyak?
  • Bagaimana komunitas dapat membantu memuluskan tercapainya tujuan perusahaan?

Pilih Platform Di Mana Kamu Akan Mendirikan Komunitas

Secara umum orang-orang yang bersedia menjadi bergabung dengan brand community biasanya merupakan golongan yang memang jadi target konsumen perusahaan. Oleh karenanya supaya semakin banyak target konsumen yang masuk maka ketahui di platform mana biasanya mereka berselancar di dunia maya.

Sebagai contohnya apabila target konsumenmu merupakan anak-anak muda dari kalangan gen-z maka platform tiktok dan instagram yang paling cocok. Membangun dan mengelola brand community sudah tentu tidaklah mudah. Menghadapi konsumen yang beraneka ragam dengan segala kerewelannya pasti membuat pusing. Namun mau tidak mau, kamu wajib mampu menanganinya demi kemajuan bisnis ke depannya.